UNTUK MENU ATAU SUBMENU YANG DIAWALI DENGAN TANDA '#' ITU PERTANDA MASIH DALAM TAHAP PERANCANGAN METODELOGI PENYAMPAIAN (DENGAN TUJUAN AGAR LEBIH MUDAH DIMENGERTI)

Apakah anda setuju jika Bahasa Arab dijadikan kurikulum wajib kedua setelah Bahasa Inggris

Pengikut

Statistik Blog


Tampilkan postingan dengan label Part of speech. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Part of speech. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2009

Pronoun

Pronoun atau kata ganti noun dalam tata bahasa inggris / english grammar memegang peranan yang sangat penting. Bisa kita bayangkan jika bahasa manusia tidak memiliki kata ganti mungkin akan timbul kejanggalan – kejanggalan. Misalkan ada seseorang bernama Donni Risdiandini, orangnya gendut dan sedang kelaparan, setahu saya hobbynya chatting :) hue..he..he, kemudian dia mengungkapkan perasaanya dengan berkata : “Donni Risdiandini hungry Donni Risdiandini want to eat.” Mungkin anda bingung siapa yang lapar dan ingin makan apakan si pembicara sendiri atau ada seseorang yang bernama sama dengan Donni Risdiandini, temannya mungkin. Tapi jika kalimat itu diganti dengan “I am hungry I want to eat” sudah pasti kita tahu maksud kalimat itu.

Karena didunia ini dimungkinkan adanya nama yang sama pemberian dari orang tua kita masing – masing, maka kata ganti “I = saya” adalah kata ganti untuk menggantikan nama diri sipembicara begitu juga dengan lawan bicaranya bisa menggunakan kata ganti I. Singkatnya bahwa semua bentuk Noun yang begitu beragam jenisnya bisa kita ganti dengan Pronoun.

Berikut ini daftar Personal Pronoun / kata ganti diri :

Jns Kel

PRONOUN

Possessive

Subjek

Objek

Possessive

Reflexive

Adjective

L/P

I

me

mine

myself

my

L/P

we

us

ours

Ourselves

our

L/P

you

you

yours

yourself

your

L/P/N

they

them

theirs

themselves

their

L

he

him

his

himself

his

P

she

her

hers

herself

her

N

it

it

its

itself

its

Dalam menghafal Reflexive pronoun coba anda bandingkan bentuk Reflexive Pronoun dengan objective pronoun beserta possesive Adjective. Penulis tambahkan possesive adjective sebagai pembanding dalam menghafal Reflexive Pronoun yang perlu anda ingat bahwa untuk I,We, You awalan ketiganya diambil dari possessive adjective sehingga menjadi myself, ourselves, yourself. Sedangkan sisanya diambil dari awalan Obejctive Pronoun sehingga menjadi themselves, himself, herself, itself.

Pada tabel diatas bisa kita lihat ada keterangan Jns Kel alias jenis kelamin atau dalam bahasa inggris disebut dengan istilah Gender. L = laki – laki, P = perempuan, N = Neuter (untuk yang tidak mempunyai jenis kelamin, contoh : meja).

Bisa kita pahami bentuk singular(tunggal) dan plural(jamak) dari kata ganti diatas. Singular (tunggal) yaitu untuk I, You, He, She, It. Sedangkan untuk plural (jamak) yaitu untuk We, You, They. Lho, berarti you bisa singular dan sekaligus plural dong. Ya ada pengecualian untuk Reflexive pronoun You = kamu / kalian, bisa mempunyai dua bentuk, jika singular / tunggal (you = kamu) maka bentuknya seperti pada tabel diatas (yourself). Jika dimaksudkan untuk bentuk jamak (you = kalian), maka berubah bentuk menjadi yourselves. Untuk Pronoun yang lainnya sama seperti yang ada pada tabel diatas.

Hukum kedua yang terdapat pada kata ganti / pronoun adalah bahwa meskipun kata ganti adalah kata untuk menggantikan noun tetapi lawan bicara kita harus sudah tahu sesuatu / seseorang yang dimaksud. Misalkan kita sedang duduk tiba – tiba ada orang yang tidak kita kenal berkata “he goes to school”, dari situ kita bingung siapa “he” yang dimaksud oleh sipembicara karena kita tidak tahu duduk perkaranya dari awal, mungkin sipembicara salah orang karena baju yang kita pakai mirip dengan temannya mungkin.

Hukum yang ketiga bahwa meskipun pronoun adalah kata untuk menggantikan sesuatu / seseorang tapi masih mempunyai arti sesuatu / seseorang yang digantikan. Misal ada percakapan :

Tina : “ is this my book”

Tono : “ it’s not yours it’s mine”

Yours dan mine adalah kata ganti (pronoun) dari book jadi pengertian book itu sendiri tidak hilang. Tapi jika ada seseorang yang tidak kita kenal yang masuk dengan tiba – tiba kemudian berkata “ it’s not yours it’s mine”. Mungkin kita bingung apakah “yours” dan “mine” itu sendiri.

Pembahasan kata ganti (pronoun) tidak berhenti sampai disini. Disamping kata ganti diri (personal pronoun) diatas, masih ada 3 (tiga) kata ganti, yaitu :

  • Relative Pronoun
  • Interrogative Pronoun
  • Demonstrative Pronoun

/*Tiga poin diatas bisa diklik jika tulisan sudah dimuat*/

Tolong ingetin untuk menulis ketiga pronoun diatas, suka lupa euy maklum IQ rada miring dikit. Baru kusadari pekerjaan yang paling susah didunia ini adalah menulis, ada sih di otak tapi kadang susah diungkapin atau tidak tahu harus mulai dari mana.

Tidur dulu ah capek. Huaaahhh!!

Conjunction

Conjunction atau kata sambung sudah barang tentu ada pada setiap bahasa manusia (sok tahu loe), termasuk bahasa inggris. Lalu apa pentingnya kita mempelajari kembali pengertian dari kata sambung. Bukankah kita tinggal menghafal saja berapa jumlah kata sambung / Conjunction kemudian menerapkanya dalam kalimat. Ya mungkin itu bisa. Tapi jika kita mempelajari bahasa asing ada perbedaan dalam hal tata bahasa. Perbedaan biasanya terletak pada posisi kata / tata letak kata (word order) dalam suatu kalimat.

Mari kita coba mendefinisikan apa itu kata sambung, misal kita tahu bahwa “dan,tetapi,sehingga” itu kata sambung. Contoh dalam kalimat :

  1. Susilo goes to school and one minute later he return again to take his wallet.
  2. Yanti invite Tono to look on concert but Tono refuse that invitation.
  3. Her mother have died so that she weep.

Dari situ bisa kita definisikan bahwa : “Kata sambung adalah kata yang digunakan untuk menyambung satu kesatuan maksud sehingga menjadi satu kalimat saja”.

“Maksud” disini bisa berarti sesuatu yang masih berkaitan, sesuatu yang berlawanan, menunjukan hubungan sebab akibat, alasan, hasil, dst. Sesuatu yang disambung bisa berupa kata, klausa, atau kalimat.

Lebih jauh lagi dalam bahasa inggris Conjunction digolongkan menjadi dua yaitu Coordinating Conjunction dan Subordinating Conjunction. Wah repot amat ya bukanya tinggal menghafal saja berapa jumlah kata sambung / Conjunction kemudian menerapkanya dalam kalimat. Ya sudah daripada pas ujian nanti nilai kita dapat nol mending kita turutin saja apa maunya para ahli bahasa.

Coordinating Conjunction

Sebelum kepala kita mengepulkan asap karena stress dalam belajar, mari kita pelajari bagian yang mudah dulu yaitu Coordinating Conjunction. Biar gampang kita lihat dari sisi terjemahan istilah kata yaitu Coordinate yang kalau diterjemahkan berarti sederajat, maksud loe!?~^>*#.

Ada dua hukum yang perlu kita ingat (wah! saya bukan mahasiswa hukum, mas:) )

  1. Yang pertama bahwa kata atau kalimat yang disambung adalah sederajat dalam hal grammatika.
  2. Yang kedua tata letak dari Coordinating Conjunction selalu diletakan diantara dua kata atau klausa yang disambung.

Bagaimana? pusing, tidak mengerti, ya sudah lupakan dua hukum diatas, karena kita punya grammatika tersembunyi dialam bawah sadar kita (sok tahu loe). Yang perlu anda ingat dan ingat hanyalah 7 buah kata berikut ini :

for so but nor or and yet

biar tidak mudah lupa, kita bikin 7 buah kata diatas menjadi sesuatu yang mudah diingat misal anda ingat jumlah hari ada tujuh kemudian kata – katanya dirubah menjadi for so butku nor ori and yeti (dibaca : for sobatku norori and yeti), nyambung gak yah!, ya sudah terserah anda gimana enaknya cara menghafal 7 kata diatas, pokoke mah biar tidak mudah lupa lah.

Jika sudah hafal coba anda terapkan dalam kalimat, misal :

I wish to buy clothes but I have no money.

Coba anda pisahkan kalimat diantara kata “but” diatas sehingga menjadi :

I wish to buy clothes.

I have no money.

Meskipun kalimat tersebut diatas dipisahkan tapi masih mempunyai maksud yang utuh dan bisa dimengerti (berdiri sendiri), hip hip horee... tanpa sadar kita telah menemukan hukum pertama yang berbunyi “kata atau kalimat yang disambung adalah sederajat dalam hal grammatika.”

Bagaimana dengan hukum yang kedua, coba saja anda buktikan dengan matematika kombinasi, misal :

But I wish to buy clothes I have no money.

But I have no money I wish to buy clothes.

I wish to buy clothes I have no money But.

I have no money I wish to buy clothes But.

Sekali lagi hukum kedua yang berbunyi “tata letak dari Coordinating Conjunction selalu diletakan diantara dua kata atau klausa yang disambung“, terbuktikan?. Jika anda masih belum mengerti wajar karena penulispun merasa seperti ada yang salah dengan metode penyampaianya hue..he..he..1000x. Mungkin anda akan lebih memahami hukum pertama dan kedua setelah mempelajari Subordinating Conjunction.

Subordinating Conjunction

Sepengetahuan penulis selain 7 buah kata diatas sisanya adalah Subordinating Conjunction, itu berarti bahwa sebagian besar Conjunction adalah Subordinating Conjunction. Apa itu Subordinating Conjunction?, apa bedanya dengan Coordinating Conjunction?. Coba kita lihat dari sisi terjemahan istilah Subordinate itu sendiri, kalau gak salah Subordinate berarti Hampir sederajat ( bener gak yah ? ). Coba bandingkan dengan coordinate = sederajat.

Untuk memahaminya coba kita lihat hukum yang terdapat didalam Subordinating Conjunction (weh!, udah dibilangin saya bukan mahasiswa hukum, mas *_^ ) :

  1. Subordinating Conjunction digunakan untuk merangkai / menyambung / menempelkan klausa yang ditangguhkan pada klausa / kalimat utama.
  2. Tata letak dari kata sambung jenis Subordinating Conjunction selalu diletakkan sebelum klausa yang ditangguhkan.

Sebelum penulis menuliskan daftar kata sambung lengkap versi penulis sendiri (menghimpunnya saja capek loh), saya kasih contoh kata sambung jenis Subordinating yaitu if, because, before. Gimana? sudah tahu terjemahanya, klo sudah mari kita terapkan dalam kalimat :

You can visit this blog if you like.

I don’t go to scholl because I’m ill.

We’ve already made a decision before we speak.

Klausa yang ditangguhkan pada contoh adalah “you like, I’m ill, we speak”. Ditangguhkan disini maksudnya apa ya? Ditangguhkan maksudnya klausa atau kalimat ini hanya bisa dimengerti jika ada atau disambung dengan klausa atau kalimat utama, intinya sih sebagai pelengkap dari kalimat utama.

Coba anda pisahkan klausa yang ditangguhkan sehingga menjadi :

You like.

I’m ill.

We speak.

Jika diungkapkan ketiganya menimbulkan pertanyaan atau membuat kita menunggu pembicara untuk menjelaskanya lebih lanjut (kita dibuat melongo kayak orang bego).

Sedangkan untuk hukum yang kedua bahwa “Tata letak dari kata sambung jenis Subordinating Conjunction selalu diletakkan sebelum klausa yang ditangguhkan “. Jadi, meskipun klausa yang ditangguhkan diletakan sebagai pembuka kalimat tetap saja Subordinating Conjunction diletakan didepan / sebelum klausa yang ditangguhkan, contoh diatas bisa kita ubah menjadi :

if you like You can visit this blog.

because I’m ill I don’t go to scholl.

before we speak We’ve already made a decision.

Dari dua jenis Conjunction bisa kita tarik perbedaanya :

  1. Coordinating conjunction setara dalam hal gramatika, jadi jika keduanya dipisahkan masih bisa dimengerti maksudnya. sedangkan Subordinating Conjunction umumnya tidak bisa.
  2. Dalam hal tata letak, Coordinating Conjunction selalu diletakan diantara kata, klausa atau kalimat yang hendak disambung. Sedangkan pada Subordinating Conjunction kata sambung jenis Subordinating Conjunction selalu diletakan sebelum / didepan klausa yang ditangguhkan.

Menurut pengalaman penulis sendiri hukum perbedaan nomer satu tidaklah mutlak (terus kenapa masih ditulis). Sedangkan untuk hukum nomer dua memang begitulah adanya sejak zaman dahulu kala he..he..he.. .

Sudah! daripada pusing – pusing gak karuan mendingan gini aja. Jika ada dua klausa atau lebih kemudian kita hendak merangkainya menjadi satu kalimat pikirkan saja arahnya. Kebanyakan kata sambung jenis Subordinate conjunction biasanya menunjukan hubungan dua arah antara sebab - akibat, alasan, persyaratan & hasil, dst. Jadi kita lihat dulu terjemahan dari kata sambung jenis Subordinate conjunction atau kita lihat dulu klausa yang hendak dirangkai kemudian tentukan kata sambung jenis Subordinate conjunction. Gitu aja kok repot. Udah deh belajar bahasa inggris mah gak usah dibikin teroris eh salah teoritis. Hue..he..he..1000x.

//interactive please

Oh ya, ngomong – ngomong udah pada tahu arti klausa? Jika belum tanyakan dengan mengisi pada form komentar. Untuk yang udah pada tahu, ya! dimohon juga untuk menjelaskanya dengan mengisi pada form komentar (hitung – hitung memperingan tugas penulis sendiri, he..he..he..).

//end of interactive please

Berikut ini daftar kata sambung yang berhasil dihimpun oleh “gue” (wah pake “gue” segala, sudah jadi anak gaul sekarang) :

Senin, 27 April 2009

Interjection

Kita akan belajar untuk mengelompokan kata dalam bahasa inggris bagaimana suatu kata termasuk Interjection atau kata seru. Dalam bahasa inggris / english grammar adalah suatu ungkapan perasaan yang kadang terjadi begitu saja. Biasanya hal itu terjadi secara spontan tanpa rekayasa. Contoh jika kita merasa sakit, misal kaki kita tersandung batu, maka kata yang keluar biasanya aduuu..hh!! atau aaa..aa!!. Jika kita sedang bingung apa yang harus dikatakan atau belum menemukan kata yang tepat maka kata yang keluar biasanya eee...! atau eemmmm!. Jika kita merasa kaget atau masih belum percaya dengan sesuatu yang kita lihat / dengar maka kata yang keluar biasanya haa..!. Jika kita mengerti sesuatu maka kata yang keluar biasanya oooo.....ooh!, dan masih banyak lagi tentunya.

Karena sifatnya yang spontan, maka dibanding penuangan dalam bentuk tulisan biasanya hal ini lebih sering diungkapkan pada saat kejadian atau percakapan sedang berlangsung. Jika dituangkan dalam bentuk tulisan (komik / novel / menulis kembali sebuah kejadian) biasanya diakhiri dengan tanda seru ( “!” = exclamation mark).

Lalu bagaimana dengan orang – orang yang bahasa aslinya menggunakan bahasa inggris. Tentu saja mereka juga punya ungkapan tertentu untuk mengungkapkan perasaan yang terjadi. Sejauh yang penulis ketahui bahwa penggolongan Interjection ada dua yaitu :

I. Hanya berupa suara / bunyi (Contoh : hi, hey, ouch, whoosah, hip hip horree.. etc) yang mungkin tidak ada terjemahan yang tepat didalam kamus baku, ini hanya bisa dimengerti dari segi ungkapan perasaan / situasi yang terjadi saat itu. Satu bunyi / suara bisa digunakan di lebih dari satu ungkapan perasaan. Berikut ini contoh bunyi / suara beserta bentuk ungkapan rasa yang dimaksud :

Ungkapan Rasa

Interjection

Contoh Kalimat

Senang / Riang

ah,

hey

hip hip horree

“ah!, I feel better now”

“hey!, I did it”

“hip hip horree!, happy new year”

Kata pembuka, Sambutan

Well

Hi

Hello, Hullo

“well!, thank you for coming”

“Hi, how are you today?”

“hello, can I help you”

Kesakitan

Ouch

Oh, o

“Ouch!, don’t touch my scab”

“ Oh!, I have a stomach-ache”

Tercapainya sesuatu

Ah, aha

whoosah

“ah!, now I know”

“whoosah!, we have caught the bad boy”

Sangsi / ragu - ragu

Er, Hmm,

Uh, Um, umm

“ I want to ..umm.. I don’t know”

“uh!, are you sure?”

Sebuah Kejutan / terkejut

Ah, eh, hey, oh

“ ah!, wonderful virus code”

Permohonan / persetujuan

Eh, oh, uh-huh

“suppose you agree with me, eh?

“Oh!, Please don’t do that”

“may I come in”, jawab : ”uh-huh”

Sedih / Kasihan

Alas

dear

“alas!, your car have been stolen”

“dear!, what’s happen to you”

Meminta perhatian

Hey, Hello

“hey!, I’m talking to you”.

“Hello!, anybody home”

Menyelidik

eh

“where you come from, eh?”

Mengulang

eh

John : “bring me a glass”

Tania: “eh!?”

John : “ I said bring me a glass”

II. Berupa kata yang termasuk kedalam kosakata lexical (yang berhubungan dengan kamus). Sejauh yang penulis ketahui ada 2 (dua) yaitu what dan how. Sekilas kedua kata tersebut biasa kita gunakan sebagai kata tanya bukan?. Kedua kata tersebut dari segi konteks pembicaraan / penulisan akan bisa dimengerti sebagai ungkapan perasaan yang kadang diartikan sebagai alangkah atau betapa.

Contoh dalam kalimat :

How nice I see you again : betapa senangnya saya bertemu denganmu lagi

How glad you join with us : alangkah gembiranya kamu bergabung dengan kami

What a pity you are : betapa kasihan dirimu

What beauty they are : alangkah cantiknya mereka.

Jadi gimana cara memilih kata seru how atau what, apakah sesuai dengan selera kita sendiri atau ada aturan tertentu. Jika anda perhatikan pada kalimat diatas terjemahan dalam bahasa Indonesia mungkin terserah anda, bisa alangkah atau betapa, pokoke mah menyerukan suara hati lah!, pake bahasa daerah juga boleh. Tapi penggunanaan kata How atau What itu yang sering buat aku kebingungan bagaimana dengan anda bingung juga? kasihan deh loe. Kalau kita perhatikan penggunaan How sepertinya dikhususkan untuk adjective(kata sifat), pada contoh yaitu : nice dan glad. Sedangkan what digunakan untuk noun / noun phrase, jika singular (tunggal) noun maka ada tambahan article (a/an,the) sehingga pada contoh menjadi what a ... .

Oh ya, satu lagi seringkali kita salah paham antara kata seru dengan memaki / makian. Karena media yang paling berpengaruh saat ini adalah dari negara Amerika (Televisi, Internet, buku, terutama Film Hollywood) biasanya kita sering mendengar kalimat seperti :

“Who the h*ll are you”

“You mother f*cker”

“what the h*ll is this”

“you talking bullsh**t”

Kadang kalimat diatas diterjemahkan dengan halus oleh penterjemah. Tapi sebenarnya kalimat – kalimat seperti itu bukan kata seru tapi makian / memaki (remember that is not interjections but abuse.). Tapi kenapa yah badan sensor Negara kita tidak begitu peduli ? (peace *_^).

Kamis, 26 Maret 2009

Adjective

“Adjective”, para ahli bahasa di negara kita (Indonesia) membuat istilah sendiri untuk Adjective mereka menamakanya “Kata Sifat”. Karena bangsa Indonesia terdiri dari ratusan bahasa daerah hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Pernah penulis berkesimpulan bahwa “kata sifat” adalah kata untuk menunjukan sifat, watak, atau tabiat seseorang (contoh : Naughty – nakal, Kind – baik hati, Lazy – Malas, Diligent – rajin) celakanya hal itu memang kebetulan benar.

Tapi begitu ada contoh kalimat yang aneh – aneh :

  1. I live in a big house.
  2. I see an old man on the street.
  3. Mira widaningsih is ugly woman on this planet ^_^.
  4. Is English more difficult than bahasa Indonesia .

Oalaaa...hhh masa sih big (besar), old (tua), ugly (jelek), more difficult (lebih sulit) masuk kategori “kata sifat”.

Jadi kata sifat itu apa ya? Kalo kita ingat lagi pelajaran di sekolah dari penjelasan guru atau buku, kalo gak salah begini bunyinya “Adjective adalah kata yang ditambahkan pada kata benda (Noun) / kata ganti (pronoun) untuk mengkualifikasikan atau menerangkan artinya sehingga menambah terang (wah lampu dong ^_^ ) kata yang disifatinya”. Bagaimana masih pusing gak ngerti, kalau begitu mari kita mengintip (mengintip disini dalam arti yang positif, bukan ngintip orang yang sedang mandi) bagaimana para pakar bahasa dari bahasa ini berasal mendefinisikan apa itu adjective, begini bunyinya “Adjective is a word that tell us more about Noun (including pronoun / noun phrase). An adjective qualifies or modifies a noun”. Waduh ora mudeng (jawa : tidak mengerti).

Jadi gimana dong. Akhirnya setelah melaui pertapaan yang panjang selama 7 hari 7 malam tidak makan makan dan minum, tapi tiap pagi sarapan habis 3 piring plus jus buah jeruk, yah! agak mendingan lah ^_^. Maka akhirnya setelah Menimbang (beras), mengingat(Wanita yang pernah menyakitiku), dan akhirnya memutuskan (Tali yang membelit kaki anak ayam) bahwa :

“Adjective adalah sebuah istilah untuk mengelompokan kata, jika kata tersebut memberikan perbedaan tertentu (ukuran, umur, bentuk & rupa, warna, bahan, jumlah, kepemilikan, mentalitas, ... , lanjutkan sendiri ya! Pokoke mah perbedaan lah) pada Noun atau kata ganti Noun [pronoun]”.

Misalkan ada contoh : I have a blue book.

Buku bukan sembarang buku tapi ada yang memberi perbedaan yaitu biru (warna).

Sekedar tambahan bahwa istilah “adjective” asal katanya diambil dari bahasa Latin (biasa lah orang bule mah kalo gak Latin, ya mbak Yunani) yaitu “ad + jectivus” kalau diterjemahkan kalo gak salah berarti “ditambahkan pada”.

Rabu, 11 Maret 2009

Noun

“Noun”, para ahli bahasa di negara kita (Indonesia) membuat istilah sendiri untuk Noun mereka menamakanya “Kata Benda”. Kalau kita ingat lagi mata pelajaran Biologi, bahwa benda bisa digolongkan menjadi dua yaitu, benda hidup dan benda mati. Karena bangsa Indonesia terdiri dari ratusan bahasa daerah hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Pernah penulis berkesimpulan bahwa “kata benda” adalah kata untuk menunjukan suatu benda (mati), sedang untuk sesuatu yang hidup (benda hidup) disebut makhluk. Sebab sebagian bahasa daerah atau mungkin karena kebiasaan yang sudah masuk ke alam bawah sadar kita, memisahkan antara benda dengan makhluk. Contoh (Guru – Teacher, anjing – dog, Tukul Arwana) ketiganya adalah makhluk bukan benda. Sedang contoh untuk benda itu sendiri seperti (Bola – Ball, Batu – Stone, Pencil – pensil). Kesemua contoh yang telah penulis sebutkan sesungguhnya semuanya adalah kata benda (Noun).

Jadi kata benda (Noun) itu apa?, Istilah Noun diciptakan oleh orang bule (pakar bahasa) yang asal katanya diambil dari bahasa latin, yaitu “nomen” yang kalau diterjemahkan berarti “Nama”. Jadi suatu kata yang memberi nama pada suatu Objek, makhluk, tempat atau konsep, kita kelompokan dengan sebuah istilah yaitu “Noun”.

Jadi contoh di atas (Guru – Teacher, anjing – dog, Tukul Arwana) dan (Bola – Ball, Batu – Stone, Pensil – Pencil) kesemuanya adalah noun, sebab inti dari yang disampaikan adalah nama. Karena sampai dengan sekarang penulis masih bingung dengan definisi dari “benda” (gak punya kamus besar bahasa Indonesia, gak punya duit buat beli bukunya L ). Mulai dari sekarang dan seterusnya pada blog ini tidak akan dipakai istilah “kata benda”, tapi Noun atau nomen saja OK coy! (jangan bilang – bilang bapak / ibu guru yah ^_^).

Verb

“Verb”, para ahli bahasa di negara kita (Indonesia) membuat istilah sendiri untuk verb mereka menamakanya “Kata Kerja”. Karena bangsa Indonesia terdiri dari ratusan bahasa daerah hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Pernah penulis berkesimpulan bahwa “kata kerja” adalah kata untuk menunjukan pekerjaan seseorang (contoh : Guru – Teacher, Petani – Farmer, Nelayan – Fisherman) dari ketiga contoh yang penulis sebutkan ternyata ketiga – tiganya bukan Verb (Kata Kerja) tapi Noun (hue..he..he..100x).

Jadi Verb itu apa ya?, tanpa sengaja penulis pernah nonton film Hollywood (film dalam bahasa inggris. Judulnya lupa, maaf yah) ceritanya begini. Ada sebuah Sekolah Menengah Atas (Senior High School) mereka mempunyai kelas khusus untuk anak – anak yang selalu ketinggalan dalam mengikuti pelajaran di sekolah (kumpulan anak – anak nakal). Pada saat salah seorang murid disuruh untuk menyebutkan kata yang termasuk Verb, jawabannya 100% ngaco (tapi jujur), begitu juga dengan siswa / siswi yang lain. Akhirnya sang guru menjelaskan bahwa Verb adalah kelompok kata yang menunjukan suatu tindakan (action). Wah! Orang yang pake bahasa inggris aja gak ngerti apa itu Verb apalagi kita, tapi mereka fasih dan lancar dalam menggunakan bahasa inggris itu sendiri.

Seperti yang telah penulis gambarkan di atas bahwa Verb adalah kelompok kata untuk menunjukan suatu tindakan (action), hal ini sebagian benar. Bisa kita lihat contoh : explode – meledakan, fight – bertarung , dan whistle – bersiul, etc. Semuanya menyampaikan suatu tindakan. Verb yang didalamnya mempunyai tindakan yang nyata (real action) maupun adanya aktifitas (activity) disebut dengan Dynamic Verb.

Tapi sebagian verb tidak mempunyai aktifitas (activity) yang nyata atau tindakan yang nyata (no real action). Verb jenis ini hanya menyampaikan keadaan (State), atau situasi (Situation) Verb jenis ini dalam ilmu bahasa inggris biasa disebut dengan Stative Verb. Contoh Stative Verb adalah be, Hear, See, seem, etc.

Contoh dalam kalimat : I hear bang! Bang! twice.

Hear disini hanya menerima atau mendengar suara yang diterima oleh telinga kita tanpa ada usaha yang begitu berarti. Tapi jika “to listen” mungkin berarti berusaha untuk mendengar “to try to hear”, dengan kata lain ada aktifitas atau tindakan dari pelaku.

Lebih jauh lagi bahwa Verb dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Helping Verb (Auxiliary Verb)
  2. Main Verb (Lexical Verb)

Kita akan mempelajarinya lebih jauh tentang Verb dilihat dari kegunaan dan pola keteraturanya.

The Eight English Part of Speech

Pernah terbayang oleh penulis apa jadinya jika seorang anak balita yang belum bisa bicara, kedua orang tuanya dari suku asli yang ada di Indonesia. Kemudian dijadikan anak angkat / asuh oleh orang bule dari negeri yang mayoritas penduduknya berbahasa Inggris. Misalkan dia dibesarkan di Amerika sejak masih bayi oleh orang bule tadi, maka setelah dia dewasa dan berkunjung ke Indonesia dia akan berbicara dalam bahasa ?

Waktu penulis masih duduk di bangku SMP, jawabannya adalah bahasa Orang Tua kandung si anak tersebut. Eh! Ternyata, setelah melihat kenyataan yang ada di dunia nyata. Contoh yang ada, anak dari negara Cina (biasanya perempuan karena dianggap pembawa sial bagi keluarga). Karena ditelantarkan atau sengaja dibuang, kemudian diadopsi oleh warga negara Amerika. Setelah dewasa tentu saja bahasa yang dia kuasai adalah bahasa yang di ajarkan pada si anak tersebut pada waktu dia pertama kali memahami bahasa orang – orang di sekitarnya, dalam hal ini Orang tua angkat dan lingkungan. Jadi warisan genetic orang tua tidak berpengaruh sama sekali.

Hebatnya lagi semuanya itu dipelajari tanpa ada kurikulum yang baku maupun pengetahuan tentang ilmu berbahasa (Grammatika / Tata bahasa), seperti istilah - istilah dalam ilmu bahasa (Noun, Verb, etc). Rumus - rumus tertentu seperti awalan, sisipan, akhiran, active / passive voice, tenses, dsb. Semuanya berjalan secara alami dan terinstall begitu saja. Cobalah anda bertanya pada orang / penduduk asli yang bahasa kesehariannya menggunakan bahasa inggris. Misalkan “ run itu termasuk kelompok kata apa Verb atau Noun?” Kebanyakan dari mereka tidak tahu atau bingung, kalau sebelumnya tidak tahu / lupa definisi dari dua istilah tersebut. Tapi mereka bisa berbahasa dengan fasih dan lancar. Mungkin anda tidak percaya!, karena penulis pun pada awalnya demikian.

Persoalan muncul begitu manusia beranjak dewasa, dimana kemampuan alami dimasa kecil menghilang. Pada saat dewasa kita dipaksa mempelajari bahasa asing dengan jalan menghapal kosakata, memahami istilah - istilah dalam ilmu bahasa, rumus - rumus tertentu, bahkan aturan - aturan berbahasa yang aneh – aneh lainnya.

Lalu bagaimana kita belajar bahasa asing pada saat kita telah tumbuh dewasa, jalan terbaik yang ditempuh mungkin dengan menjadi anak balita lagi hue..he..he..100x. Masa kecil adalah suatu masa yang sangat cerdas tapi tidak bisa diulang lagi.

Kalau kita mau menyadari (ceuilee...hhh bahasanya kayak filsuf aja) bahwa bahasa - bahasa manusia didunia ini, seluruhnya tersusun dari kata - kata. Setiap kata mempunyai makna atau arti tersendiri yang secara tak sadar telah disepakati oleh kelompok, suku, golongan maupun suatu bangsa yang telah diajarkan secara turun temurun sejak manusia belajar berkomunikasi / berbicara dimasa kanak - kanak. Perbedaanya mungkin pada cing – cong (oalaaah apa itu cing – cong?), ya semacam lafal bunyi gitulah. Tapi kalau diterjemahkan antar bahasa yang berbeda mungkin makna yang dimaksud sama( Contoh I = Saya)

Setiap kata itu kalau disusun akan mengandung satu kesatuan maksud. Kita mengenal hal itu dalam sebuah istilah dalam ilmu bahasa yaitu “kalimat”. Penyusunan kalimat itu seperti punya keteraturan, hanya saja kita jarang untuk menyadarinya (tapi lagi gak pada kesurupan kan!). contoh dalam bahasa Indonesia :

  1. Saya ingin makan
  2. Saya makan ingin (ingin? Makanan apaan tuh!)
  3. Makan saya ingin
  4. Makan ingin saya (apa yang diinginkan oleh si makan dariku)
  5. Ingin saya makan
  6. Ingin makan saya (wah ada yang mau memakan saya, tolooo...ng!)

Sepertinya ada peraturan yang tidak kita sadari, bagaimana cara menyusun kata sehingga maksud kita bisa dimengerti oleh orang lain. Untuk itu tahap pertama kita akan coba untuk memisahkan, membagi, atau mengelompokan kata berdasarkan spesifikasi tertentu. Para ahli bahasa Inggris dari negara asalnya mengelompokan kata menjadi 8 (delapan) bagian, istilah dalam ilmu bahasa inggrisnya (English Grammar) disebut dengan “The Eight English Part of Speech”, kedelapan bagian itu yaitu :

  1. Verb
  2. Noun
  3. Adjective
  4. Adverb
  5. Pronoun
  6. Preposition
  7. Conjunction
  8. Interjection

Dan ada satu lagi yang perlu dipisahkan, sebenarnya ini bagian dari Adjective itu sendiri tapi mempunyai karakteristik khusus dengan adjective pada umumnya. Istilah yang kesembilan itu kita namakan :

  1. Determiners

Begitu pentingkah kita mempelajari “The eight english part of speech?”, kalau mau dijawab singkat itu hanyalah sebuah “istilah”, ya! sebuah istilah yang dibuat oleh para pakar bahasa untuk menyeleksi / menilai orang yang mempelajari suatu bahasa berdasarkan sistematika / kurikulum mereka, sehingga bisa diketahui sampai dimana tingkat pemahaman anda. Tentunya inti atau tujuan utama dari semua itu adalah agar anda bisa menguasai bahasa. Tapi masih ingatkah anda bahwa, kita belajar bahasa (Indonesia / daerah) diwaktu masih anak – anak tanpa ada suatu istilah, ataupun rumus tertentu so “Be speak naturally! Like children”.

Jika anda memahami konsep / definisi dari 8 (delapan) pembagian kata diatas. Mungkin anda akan menyimpulkan bahwa hal itu tidak hanya berlaku untuk bahasa Inggris saja, tapi bahasa – bahasa manusia pada umumnya yang ada di dunia ini.

Kita pelajari satu persatu yuk!

New Article Announcement

Untuk yang tidak ingin ketinggalan artikel terbaru dari Blog ini, Enter your email address( or your friends (*_-) :

Delivered by FeedBurner

FeedBurner FeedCount