UNTUK MENU ATAU SUBMENU YANG DIAWALI DENGAN TANDA '#' ITU PERTANDA MASIH DALAM TAHAP PERANCANGAN METODELOGI PENYAMPAIAN (DENGAN TUJUAN AGAR LEBIH MUDAH DIMENGERTI)

Apakah anda setuju jika Bahasa Arab dijadikan kurikulum wajib kedua setelah Bahasa Inggris

Pengikut

Statistik Blog


Kamis, 26 Maret 2009

Adjective

“Adjective”, para ahli bahasa di negara kita (Indonesia) membuat istilah sendiri untuk Adjective mereka menamakanya “Kata Sifat”. Karena bangsa Indonesia terdiri dari ratusan bahasa daerah hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Pernah penulis berkesimpulan bahwa “kata sifat” adalah kata untuk menunjukan sifat, watak, atau tabiat seseorang (contoh : Naughty – nakal, Kind – baik hati, Lazy – Malas, Diligent – rajin) celakanya hal itu memang kebetulan benar.

Tapi begitu ada contoh kalimat yang aneh – aneh :

  1. I live in a big house.
  2. I see an old man on the street.
  3. Mira widaningsih is ugly woman on this planet ^_^.
  4. Is English more difficult than bahasa Indonesia .

Oalaaa...hhh masa sih big (besar), old (tua), ugly (jelek), more difficult (lebih sulit) masuk kategori “kata sifat”.

Jadi kata sifat itu apa ya? Kalo kita ingat lagi pelajaran di sekolah dari penjelasan guru atau buku, kalo gak salah begini bunyinya “Adjective adalah kata yang ditambahkan pada kata benda (Noun) / kata ganti (pronoun) untuk mengkualifikasikan atau menerangkan artinya sehingga menambah terang (wah lampu dong ^_^ ) kata yang disifatinya”. Bagaimana masih pusing gak ngerti, kalau begitu mari kita mengintip (mengintip disini dalam arti yang positif, bukan ngintip orang yang sedang mandi) bagaimana para pakar bahasa dari bahasa ini berasal mendefinisikan apa itu adjective, begini bunyinya “Adjective is a word that tell us more about Noun (including pronoun / noun phrase). An adjective qualifies or modifies a noun”. Waduh ora mudeng (jawa : tidak mengerti).

Jadi gimana dong. Akhirnya setelah melaui pertapaan yang panjang selama 7 hari 7 malam tidak makan makan dan minum, tapi tiap pagi sarapan habis 3 piring plus jus buah jeruk, yah! agak mendingan lah ^_^. Maka akhirnya setelah Menimbang (beras), mengingat(Wanita yang pernah menyakitiku), dan akhirnya memutuskan (Tali yang membelit kaki anak ayam) bahwa :

“Adjective adalah sebuah istilah untuk mengelompokan kata, jika kata tersebut memberikan perbedaan tertentu (ukuran, umur, bentuk & rupa, warna, bahan, jumlah, kepemilikan, mentalitas, ... , lanjutkan sendiri ya! Pokoke mah perbedaan lah) pada Noun atau kata ganti Noun [pronoun]”.

Misalkan ada contoh : I have a blue book.

Buku bukan sembarang buku tapi ada yang memberi perbedaan yaitu biru (warna).

Sekedar tambahan bahwa istilah “adjective” asal katanya diambil dari bahasa Latin (biasa lah orang bule mah kalo gak Latin, ya mbak Yunani) yaitu “ad + jectivus” kalau diterjemahkan kalo gak salah berarti “ditambahkan pada”.

Rabu, 11 Maret 2009

Noun

“Noun”, para ahli bahasa di negara kita (Indonesia) membuat istilah sendiri untuk Noun mereka menamakanya “Kata Benda”. Kalau kita ingat lagi mata pelajaran Biologi, bahwa benda bisa digolongkan menjadi dua yaitu, benda hidup dan benda mati. Karena bangsa Indonesia terdiri dari ratusan bahasa daerah hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Pernah penulis berkesimpulan bahwa “kata benda” adalah kata untuk menunjukan suatu benda (mati), sedang untuk sesuatu yang hidup (benda hidup) disebut makhluk. Sebab sebagian bahasa daerah atau mungkin karena kebiasaan yang sudah masuk ke alam bawah sadar kita, memisahkan antara benda dengan makhluk. Contoh (Guru – Teacher, anjing – dog, Tukul Arwana) ketiganya adalah makhluk bukan benda. Sedang contoh untuk benda itu sendiri seperti (Bola – Ball, Batu – Stone, Pencil – pensil). Kesemua contoh yang telah penulis sebutkan sesungguhnya semuanya adalah kata benda (Noun).

Jadi kata benda (Noun) itu apa?, Istilah Noun diciptakan oleh orang bule (pakar bahasa) yang asal katanya diambil dari bahasa latin, yaitu “nomen” yang kalau diterjemahkan berarti “Nama”. Jadi suatu kata yang memberi nama pada suatu Objek, makhluk, tempat atau konsep, kita kelompokan dengan sebuah istilah yaitu “Noun”.

Jadi contoh di atas (Guru – Teacher, anjing – dog, Tukul Arwana) dan (Bola – Ball, Batu – Stone, Pensil – Pencil) kesemuanya adalah noun, sebab inti dari yang disampaikan adalah nama. Karena sampai dengan sekarang penulis masih bingung dengan definisi dari “benda” (gak punya kamus besar bahasa Indonesia, gak punya duit buat beli bukunya L ). Mulai dari sekarang dan seterusnya pada blog ini tidak akan dipakai istilah “kata benda”, tapi Noun atau nomen saja OK coy! (jangan bilang – bilang bapak / ibu guru yah ^_^).

Verb

“Verb”, para ahli bahasa di negara kita (Indonesia) membuat istilah sendiri untuk verb mereka menamakanya “Kata Kerja”. Karena bangsa Indonesia terdiri dari ratusan bahasa daerah hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Pernah penulis berkesimpulan bahwa “kata kerja” adalah kata untuk menunjukan pekerjaan seseorang (contoh : Guru – Teacher, Petani – Farmer, Nelayan – Fisherman) dari ketiga contoh yang penulis sebutkan ternyata ketiga – tiganya bukan Verb (Kata Kerja) tapi Noun (hue..he..he..100x).

Jadi Verb itu apa ya?, tanpa sengaja penulis pernah nonton film Hollywood (film dalam bahasa inggris. Judulnya lupa, maaf yah) ceritanya begini. Ada sebuah Sekolah Menengah Atas (Senior High School) mereka mempunyai kelas khusus untuk anak – anak yang selalu ketinggalan dalam mengikuti pelajaran di sekolah (kumpulan anak – anak nakal). Pada saat salah seorang murid disuruh untuk menyebutkan kata yang termasuk Verb, jawabannya 100% ngaco (tapi jujur), begitu juga dengan siswa / siswi yang lain. Akhirnya sang guru menjelaskan bahwa Verb adalah kelompok kata yang menunjukan suatu tindakan (action). Wah! Orang yang pake bahasa inggris aja gak ngerti apa itu Verb apalagi kita, tapi mereka fasih dan lancar dalam menggunakan bahasa inggris itu sendiri.

Seperti yang telah penulis gambarkan di atas bahwa Verb adalah kelompok kata untuk menunjukan suatu tindakan (action), hal ini sebagian benar. Bisa kita lihat contoh : explode – meledakan, fight – bertarung , dan whistle – bersiul, etc. Semuanya menyampaikan suatu tindakan. Verb yang didalamnya mempunyai tindakan yang nyata (real action) maupun adanya aktifitas (activity) disebut dengan Dynamic Verb.

Tapi sebagian verb tidak mempunyai aktifitas (activity) yang nyata atau tindakan yang nyata (no real action). Verb jenis ini hanya menyampaikan keadaan (State), atau situasi (Situation) Verb jenis ini dalam ilmu bahasa inggris biasa disebut dengan Stative Verb. Contoh Stative Verb adalah be, Hear, See, seem, etc.

Contoh dalam kalimat : I hear bang! Bang! twice.

Hear disini hanya menerima atau mendengar suara yang diterima oleh telinga kita tanpa ada usaha yang begitu berarti. Tapi jika “to listen” mungkin berarti berusaha untuk mendengar “to try to hear”, dengan kata lain ada aktifitas atau tindakan dari pelaku.

Lebih jauh lagi bahwa Verb dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Helping Verb (Auxiliary Verb)
  2. Main Verb (Lexical Verb)

Kita akan mempelajarinya lebih jauh tentang Verb dilihat dari kegunaan dan pola keteraturanya.

The Eight English Part of Speech

Pernah terbayang oleh penulis apa jadinya jika seorang anak balita yang belum bisa bicara, kedua orang tuanya dari suku asli yang ada di Indonesia. Kemudian dijadikan anak angkat / asuh oleh orang bule dari negeri yang mayoritas penduduknya berbahasa Inggris. Misalkan dia dibesarkan di Amerika sejak masih bayi oleh orang bule tadi, maka setelah dia dewasa dan berkunjung ke Indonesia dia akan berbicara dalam bahasa ?

Waktu penulis masih duduk di bangku SMP, jawabannya adalah bahasa Orang Tua kandung si anak tersebut. Eh! Ternyata, setelah melihat kenyataan yang ada di dunia nyata. Contoh yang ada, anak dari negara Cina (biasanya perempuan karena dianggap pembawa sial bagi keluarga). Karena ditelantarkan atau sengaja dibuang, kemudian diadopsi oleh warga negara Amerika. Setelah dewasa tentu saja bahasa yang dia kuasai adalah bahasa yang di ajarkan pada si anak tersebut pada waktu dia pertama kali memahami bahasa orang – orang di sekitarnya, dalam hal ini Orang tua angkat dan lingkungan. Jadi warisan genetic orang tua tidak berpengaruh sama sekali.

Hebatnya lagi semuanya itu dipelajari tanpa ada kurikulum yang baku maupun pengetahuan tentang ilmu berbahasa (Grammatika / Tata bahasa), seperti istilah - istilah dalam ilmu bahasa (Noun, Verb, etc). Rumus - rumus tertentu seperti awalan, sisipan, akhiran, active / passive voice, tenses, dsb. Semuanya berjalan secara alami dan terinstall begitu saja. Cobalah anda bertanya pada orang / penduduk asli yang bahasa kesehariannya menggunakan bahasa inggris. Misalkan “ run itu termasuk kelompok kata apa Verb atau Noun?” Kebanyakan dari mereka tidak tahu atau bingung, kalau sebelumnya tidak tahu / lupa definisi dari dua istilah tersebut. Tapi mereka bisa berbahasa dengan fasih dan lancar. Mungkin anda tidak percaya!, karena penulis pun pada awalnya demikian.

Persoalan muncul begitu manusia beranjak dewasa, dimana kemampuan alami dimasa kecil menghilang. Pada saat dewasa kita dipaksa mempelajari bahasa asing dengan jalan menghapal kosakata, memahami istilah - istilah dalam ilmu bahasa, rumus - rumus tertentu, bahkan aturan - aturan berbahasa yang aneh – aneh lainnya.

Lalu bagaimana kita belajar bahasa asing pada saat kita telah tumbuh dewasa, jalan terbaik yang ditempuh mungkin dengan menjadi anak balita lagi hue..he..he..100x. Masa kecil adalah suatu masa yang sangat cerdas tapi tidak bisa diulang lagi.

Kalau kita mau menyadari (ceuilee...hhh bahasanya kayak filsuf aja) bahwa bahasa - bahasa manusia didunia ini, seluruhnya tersusun dari kata - kata. Setiap kata mempunyai makna atau arti tersendiri yang secara tak sadar telah disepakati oleh kelompok, suku, golongan maupun suatu bangsa yang telah diajarkan secara turun temurun sejak manusia belajar berkomunikasi / berbicara dimasa kanak - kanak. Perbedaanya mungkin pada cing – cong (oalaaah apa itu cing – cong?), ya semacam lafal bunyi gitulah. Tapi kalau diterjemahkan antar bahasa yang berbeda mungkin makna yang dimaksud sama( Contoh I = Saya)

Setiap kata itu kalau disusun akan mengandung satu kesatuan maksud. Kita mengenal hal itu dalam sebuah istilah dalam ilmu bahasa yaitu “kalimat”. Penyusunan kalimat itu seperti punya keteraturan, hanya saja kita jarang untuk menyadarinya (tapi lagi gak pada kesurupan kan!). contoh dalam bahasa Indonesia :

  1. Saya ingin makan
  2. Saya makan ingin (ingin? Makanan apaan tuh!)
  3. Makan saya ingin
  4. Makan ingin saya (apa yang diinginkan oleh si makan dariku)
  5. Ingin saya makan
  6. Ingin makan saya (wah ada yang mau memakan saya, tolooo...ng!)

Sepertinya ada peraturan yang tidak kita sadari, bagaimana cara menyusun kata sehingga maksud kita bisa dimengerti oleh orang lain. Untuk itu tahap pertama kita akan coba untuk memisahkan, membagi, atau mengelompokan kata berdasarkan spesifikasi tertentu. Para ahli bahasa Inggris dari negara asalnya mengelompokan kata menjadi 8 (delapan) bagian, istilah dalam ilmu bahasa inggrisnya (English Grammar) disebut dengan “The Eight English Part of Speech”, kedelapan bagian itu yaitu :

  1. Verb
  2. Noun
  3. Adjective
  4. Adverb
  5. Pronoun
  6. Preposition
  7. Conjunction
  8. Interjection

Dan ada satu lagi yang perlu dipisahkan, sebenarnya ini bagian dari Adjective itu sendiri tapi mempunyai karakteristik khusus dengan adjective pada umumnya. Istilah yang kesembilan itu kita namakan :

  1. Determiners

Begitu pentingkah kita mempelajari “The eight english part of speech?”, kalau mau dijawab singkat itu hanyalah sebuah “istilah”, ya! sebuah istilah yang dibuat oleh para pakar bahasa untuk menyeleksi / menilai orang yang mempelajari suatu bahasa berdasarkan sistematika / kurikulum mereka, sehingga bisa diketahui sampai dimana tingkat pemahaman anda. Tentunya inti atau tujuan utama dari semua itu adalah agar anda bisa menguasai bahasa. Tapi masih ingatkah anda bahwa, kita belajar bahasa (Indonesia / daerah) diwaktu masih anak – anak tanpa ada suatu istilah, ataupun rumus tertentu so “Be speak naturally! Like children”.

Jika anda memahami konsep / definisi dari 8 (delapan) pembagian kata diatas. Mungkin anda akan menyimpulkan bahwa hal itu tidak hanya berlaku untuk bahasa Inggris saja, tapi bahasa – bahasa manusia pada umumnya yang ada di dunia ini.

Kita pelajari satu persatu yuk!

New Article Announcement

Untuk yang tidak ingin ketinggalan artikel terbaru dari Blog ini, Enter your email address( or your friends (*_-) :

Delivered by FeedBurner

FeedBurner FeedCount